Minggu, 28 Oktober 2007

Perbedaan itu...

Kadang begitu indah ketika satu sama lain bertaut salng melengkapi...
Kadang begitu menyakitkan ketika satu sama lain bersaing tanpa tujuan yang jelas..
Hanya memuaskan nafsu, atau hanya sekedar memenangkan akal...

Itulah...
bukan sebagai keangkuhan diri ataupun tendensi fanatisme pemikiran...
semoga cerita ini menjadi introspeksi bagi kita, terutama saya...

cerita yang terbingkai oleh haru biru perjumpaan dengan seorang sahabat...
hanya 1 kelompok berbeda cara berpikirnya diantara sekian banyak kelompok 'pencari Tuhan' dalam sebuah sekolah. Dan hanya 4 orang dari 8 orang dalam satu kelompok itu yang tetap survive hingga kini..(ini kelompok akhwat, kalo ikhwan semuanya sama dengan cara berpikir kebanyakan kelompok)

sementara 4 orang yang lain
Ada yang berpindah ke pemikiran 'umum' di sekolah
Ada yang entah lupa atau tidak tahu...kembali ke jaman jahiliyyah
Ada yang berhenti total dari aktivitas semenjak lulus sekolah.

entahlah kebanyakan orang-orang yang mengalami kefuturan itu kuliah di malang..
bahkan sepertinya tidak ada lagi sebutan 'aktivis dakwah' bagi mantan pengurus SKI..
khusunya para ikhwan...

bahkan yang sangat mengagetkan..seorang ikhwan yang dianggap paling 'safe' diantara ikhwan-ikhwan lain itu pun ternyata pacaran...naudzubillah min dzalik...tidak habis pikir bagaimana dengan yang lain..entah mantan ketum, mantan kabid...sama saja...(nyleneh)..

analisis sementara...kejenuhan adalah faktor penyebab utama..
bagaimana tidak 4 orang yang survive itupun pernah menjadi 'korban' dari cara berpikir kebanyakan kelompok di sekolah..hingga 'tarik-menarik' secara terang-terangan pun pernah dialami..(iklim yang sangat tidak nyaman)..
Jadi sedikit banyak tahulah tentang materi yang diberikan...yang berkisar tentang hal senada..

Terlebih lagi sampai ada yang bertanya.."Mbak apa sih pentingnya i'tikaf ramadhan..??" tanya seseorang yang sedang marah karena ketinggalan rombongan i'tikaf..
Haa ?!???..dilihat tipikal orangnya termasuk getol mencari teman baru..tapi koq...hal seperti itu masih ditanyakan..??

Yach...karena butuh penjelasan lebih barangkali...pikir kami.

Manusia hakikatnya terbagi dalam 3 kebutuhan mendasar..
Jika salah satu diantaranya tidak terpenuhi dengan baik, maka terjadilah apa yang dinamakan ketimpangan yang mengarah ke sesuatu yang lebih besar efek negatifnya..

jasad yang dipenuhi dengan makan, istirahat, dll
akal yang dipenuhi dengan ilmu
hati / ruhiyah yang dicukupi dengan dzikir

Bila kebutuhan jasadi tidak terpenuhi, maka timbullah rasa sakit
Bila kebutuhan akal terabaikan, muncullah kebodohan, keterbelakangan, bahkan kemunduran
dan bila ruhiyah terbengkalai, akan terasa kegundahan, resah...

Muwazanat..
keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan itulah yang menjadikan manusia survive...
Dan tidak bisa dipungkiri...ilmu Allah begitu luasnya, terlalu sempit cara kita berpikir jika memandang segala sesuatu dengan hal-hal yang itu-itu saja..Atau ilmu yang diperoleh juga berat sebelah..yang terkadang kita pun butuh ilmu yang ringan meski hanya ilmu memasak..

Allahu a'lam..
karena hidayah terlalu mahal untuk digadaikan...

Lebih Lanjut..

Jumat, 19 Oktober 2007

Indahnya...Saling Memaafkan...


Serasa tidak ada lagi beban dalam batin..jika benar-benar tulus meminta maaf..dan jika benar-benar ikhlas memaafkan...

Karena manusia tidak lepas dari salah dan khilaf...
Dan sepantasnyalah untuk memulai memaafkan kesalahan orang lain meski tanpa ada kata maaf..

Karena memaafkan jauh lebih indah...

Mohon maaf segala khilaf....

***Pasca pertemuan dengan sahabat2 SMA....(di sebuah tempat penuh kenangan)
Dalam kesejukan kota setelah guyuran hujan.....indahnya...^_^

Lebih Lanjut..

Sabtu, 06 Oktober 2007

Yang Manakah Anda.... ?

Siapakah orang yang sibuk ?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil pusing akan waktu shalatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s.

Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang di timpa musibah lalu dia kata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata, "Ya Rabbi Aku ridha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan Tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada senantiasa menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan kemana mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi menghimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak karena telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.

Siapakah orang yg bijak?
Orang yg bijak ialah org yg tidak membiarkan atau membuang tulisan ini begitu saja, malah dia akan menyampaikan pula pada org lain untuk dimanfaatkan dan mengambil contoh sebagai sandaran dan pedoman kehidupan sehari-hari.

Lebih Lanjut..

Minggu, 30 September 2007

Menanti Malam Seribu Bulan

Tak terasa setengah bulan Ramadhan telah terlewati. Bagaimana dengan ritual ibadah tambahan Anda, masih terus terjaga? Seperti biasa kita temui di awal puasa banyak masjid terlihat terisi penuh oleh jamaah shalat Tarawih. Namun menjelang minggu-minggu berikutnya barisan jamaah di mesjid terus berkurang.


Barangkali kita terlalu bersemangat di awal-awal puasa, hingga kurang bisa mengatur ‘energi’ untuk beribadah . Mungkin juga terlalu sibuk mengurus pekerjaan rumah atau mengalami kebosanan untuk terus menjaga ritual salat sunnah di mesjid. Yang pasti di bulan ini, anjuran untuk mengerjakan ibadah dan berlomba-lomba dalam kebaikan sangat dianjurkan.

Tentu pada ramadhan kali ini, kita tidak berharap ibadah yang tengah dilakukan menguap dengan sia-sia, alias hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Maka di pertengahan bulan ramadhan ini, Insya Allah, kita masih diberikan kesempatan untuk memadatkan dan merayakan ibadah-ibadah tambahan di malam hari. Tidakkah Anda menginginkan malam kedamaian dengan seribu bulan yang datang di sepuluh hari terakhir?

Telah disebutkan dalam Al Quran dalam surat Al Qadr, bahwa tiada malam yang mendapat sebutan indah dari Tuhan kecuali lailatul qadar. Yakni malam yang kebaikannya melebihi seribu bulan. Malam itu memiliki kedudukan yang tinggi dan kemuliaan terhormat (al manzilah ar rafi’ah), lailatulbarakah (malam penuh berkah), lailaturrahmah (malam penuh kasih sayang), laylatussalam (malam penuh keselamatan). Lailatulqadr adalah anugerah khusus yang diberikan Allah pada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh beribadah untuk menjemputnya pada bulan Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa shalat malam pada malam lailatul qadr karena iman dan mengharapkan ridla Allah, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya yang telah lalu.” Dari hadist riwayat Muttafaq ‘Alaih. Rasulullah selalu menganjurkan umatnya untuk selalu meraih malam itu.

Bagaimana memastikan kedatangan malam lailatul qadr? Dari hadist riwayat Bukhari Muslim, Nabi berkata, "Carilah dia (lailatul qadar) pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan pada hitungan ganjil." Lebih khusus lagi, setiap tanggal ganjil yakni: 21, 23, 25, dan seterusnya. Ada satu pendapat yang mengatakan, lailaltul qadr jatuh setiap 17 Ramadhan bertepatan dengan Nuzulul Quran.

Di sepuluh malam terakhir ini dianjurkan untuk memperpadat ibadah sunah, seperti salat Tahajud, zikir, salat hajat, tadarus, I’tikaf, dan lainnya. Maka di bulan penuh berkah dan rahmat ini, semua umat muslim sedang menanti “bonus khusus” dari Allah, di mana malam itu penuh “cahaya kedamaian” hingga fajar menjelang.
Selamat menanti dan meraih malam seribu bulan.

sumber : ruang religi


Lebih Lanjut..

Kamis, 27 September 2007

Wanita Shalihah

oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar

Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. MULIALAH wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah". (HR. Muslim). Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt. memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran.

Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah). Wanita shalihah itu murah senyum. Baginya, senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis. Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain. Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik dan akan berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Ia juga selalu menjaga akhlaknya.

Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa malu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Ia sadar bahwa semakin kurang iman seseorang, makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin buruk kualitas akhlaknya.

Pada prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri. Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make up apa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia "polos" tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang di sekitarnya.

Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak. Contoh pula Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rasulullah. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal.

Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi. Banyak wanita bisa sukses. Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, "Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya. "

Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara. Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius. Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa.

Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita kita. Wallahua'lam. ***

Lebih Lanjut..

Selasa, 25 September 2007

Allah Malu Untuk Tidak Mendengar Doa HambaNya...


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. " (Al-Baqarah:186)

Melihat perkataan Allah di atas, sebenarnya yang pantas untuk malu adalah kita..Malu karena merasa cukup dengan apa yang ada, terlebih saat semua yang kita inginkan telah terpenuhi.. Seolah-olah kita tidak lagi membutuhkan Allah, tidak lagi butuh akan perhatian Allah.
Betapa tidak, saat kita memiliki sebuah keinginan yang begitu besar, misal ingin lulus ujian, ingin cita-citanya terwujud, kita sangat getol memohon dan tidak pernah absen di setiap doa usai sholat untuk menyebut keinginan-keinginan itu. Padahal, seandainya kita diperlakukan layaknya 'habis manis sepah dibuang', tentu kita akan merasa sakit hati bukan ??... Begitulah Allah, namun kemurahanNyalah yang mengalahkan kekecewaanNya terhadap kita, kasih sayangNya mampu mengalahkan kemurkaanNya..lalu masihkah kita tidak memiliki rasa malu agar senantiasa istiqomah mendekatiNya dengan doa-doa kita ???

Berdoalah selalu kawan...


Lebih Lanjut..

Jumat, 21 September 2007

*Jangan Berlebihan Berbuka dengan yang Manis *

Amir Tejo - Okezone

Saat di Bulan Ramadhan kita sering dengar kalimat "berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis." Konon, itu dicontohkan Rasulullah SAW.

Dari Anas bin Malik ia berkata : "Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum salat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata: "Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka berbuka hanya dengan air."

Masyarakat kita memang bukan jazirah Arab. Kita lebih mengenal berbuka dengan kolak, es kacang hijau dan makanan yang manis-manis lainnya untuk berbuka puasa dibandingkan dengan kurma.

Padahal kurma dengan yang manis-manis gula itu ternyata berbeda. Dalam kurma mengandung adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate) atau fruktosa. Sedangkan, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate) atau glukosa.

Ada yang berpendapat jika berbuka puasa dengan makanan yang manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan. Ini karena ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu.

Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.

_*Ini pendapat yang kurang benar*_, karena selama kita berpuasa ada bagian-bagian dari tubuh kita yang sebenarnya membutuhkan energi secara instan. Contohnya adalah bagian otak. "Bagian tubuh kita yang penting ini perlu mendapat asupan energi secepatnya. Sehingga energi tersebut hanya bisa di dapat dari glukosa alias dari yang manis-manis gula," kata dr Sri Adiningsih Ahli Gizi dari RS Dr Soetomo Surabaya.

Sedangkan jika hanya mengandalkan asupan energi dari fruktosa alias manis-manis buah-buahan maka fruktosa ini membutuhkan waktu untuk diproses menjadi energi. Sedangkan satu sisi ternyata otak membutuhkan asupan energi yang sifatnya instan.

Selain otak, ternyata peredaran darah kita juga membutuhkan asupan energi instan yang hanya didapat dari glukosa atau manis gula-gulaan.

"Makanya setelah makan yang manis-manis dari glukosa kan kita merasa sudah segar. Ini karena otak mempunyai fungsi mengatur manipulatif, sekaligus peredaran darah kita sudah mendapat asupan energi yang cukup sehingga lancar," kata Adiningsih.

Namun Adiningsih mengingatkan jangan berlebihan dalam mengonsumsi gula-gula. Idealnya Adiningsih menyarankan jika kita hanya mengonsumsi sekitar tiga sendok makan dalam sehari. (mbs)

Lebih Lanjut..

Kamis, 20 September 2007

Amalan Selama Bulan Ramadhan

Oleh: Mochamad Bugi

Ramadhan punya makna tersendiri di hati umat Islam. Bulan ini adalah bulan rihlah ruhaniyah (wisata rohani). Umat Islam melepas belenggu materialisme dunia dengan menghidupkan dunia ruhiyah. Sebulan penuh umat Islam menjalani proses tadzkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Sebulan penuh umat Islam melakukan riyadhatur ruhiyah (olah rohani).
Sebulan penuh umat Islam bagai ulat dalam kepompong Ramadhan. Diharapkan di akhir Ramadhan kondisi rohani mereka secantik kupu-kupu. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah (2): 183]

Amal-amal apa saja yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan agar kita bisa memperoleh derajat takwa?

1. Berpuasa (Shiyam)
Amal yang utama di bulan Ramadhan tentu saja berpuasa. Hal ini diperintahkan Allah swt. dalam Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 183-187. Karena itu, agar puasa kita tidak sia-sia, perdalamlah wawasan kita tentang puasa yang benar dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya. Sebab, puasa bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Tapi, ada rambu-rambu yang harus ditaati. Kata Rasulullah saw., “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yagn semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)
Jangan pernah tidak berpuasa sehari pun tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Meninggalkan puasa tanpa uzur adalah dosa besar dan tidak bisa ditebus meskipun orang itu berpuasa sepanjang masa. “Barangsiapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshah atau sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup,” begitu kata Rasulullah saw. (HR. At-Turmudzi)
Jauhi hal-hal yang dapat mengurangi dan menggugurkan nilai puasa Anda. Inti puasa adalah melatih kita menahan diri dari hal-hal yang tidak benar. Bila hal-hal itu tidak bisa ditinggalkan, maka nilai puasa kita akan berkurang kadarnya. Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah (hakikat) puasa itu sekadar meninggalkan makan dan minum, melainkan meninggalkan perbuatan sia-sia dan kata-kata bohong.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah saw. juga berkata, “Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktikkanya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekadar meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Semua itu tidak akan bisa kita lakukan kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam melaksankannya. Dengan begitu, puasa yang kita lakukan menghasilkan ganjaran dari Allah berupa ampunNya. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan diampuni dosa-dosa yang pernah dilakukan.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)
Salah satu bentuk kesungguhan dalam berpuasa adalah, melakukan makan sahur sebelum tiba waktu subuh. Rasulullah saw. menerangkan, “Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan Anda tinggalkan, meskipun hana dengan seteguk air. Alah dan para malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur.”
Selain sahur, menyegerakan berbuka ketika magrib tiba, juga bentuk kesungguhan kita dalam berpuasa. “Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya ialah mereka yang menyegerakan berbuka puasa,” begitu kata Rasulullah saw. Rasulullah saw. memberi contoh bersegera berbuka puasa walaupun hanya dengan ruthab (kurma mengkal), tamar (kurma), atau seteguk air. (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Selama berpuasa, jangan lupa berdoa. Doa yang banyak. Sebab, doa orang yang berpuasa mustajab. Ini kata Rasulullah saw., “Ada tiga kelompok manusia yang doanya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah doa orang-orang yang berpuasa sehingga mereka berbuka.” (HR. Ahmad dan Turmudzi)

2. Membaca Al-Qur’an (Tilawah)
Al-Qur’an diturunkan perama kali di bulan Ramadhan. Maka tak heran jika Rasulullah saw. lebih sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dibandingkan di bulan-bulan lain. Imam Az-Zuhri berkata, “Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita selain berpuasa adalah membaca Al-Qur’an.” Bacalah dengan tajwid yang baik dan tadabburi, pahami, dan amalkan isinya. Insya Allah, kita akan menjadi insan yang berkah.
Buat target. Jika di bulan-bulan lain kita khatam membaca Al-Qur’an dalam sebulan, maka di bulan Ramadhan kita bisa memasang target dua kali khatam. Lebih baik lagi jika ditambah dengan menghafal satu juz atau surat tertentu. Ini bisa dijadikan program unggulan bersama keluarga.

3. Memberikan makanan (Ith’amu ath-tha’am)
Amal Ramadhan yang juga dianjurkan Rasulullah saw. adalah memberikan santapan berbuka puasa kepada orang-orang yang berpuasa. “Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.” (HR. Turmudzi dan An-Nasa’i)
Sebenarnya memberi makan untuk orang berbuka hanyalah salah satu contoh bentuk kedermawanan yang ingin ditumbuhkan kepada kita. Masih banyak bentuk sedekah yang bisa kita lakukan jika kita punya kelebihan rezeki. Peduli dan sigap menolong orang lain adalah sifat yang ingin dilatih dari orang yang berpuasa.

4. Perhatikan kesehatan
Berpuasa adalah ibadah mahdhah. Tapi orang yang berpuasa juga sebenarnya adalah orang yang peduli dengan kesehatan. Makanya Rasulullah saw. berkata, “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.” Tak heran jika selama berpuasa Rasulullah saw. tetap memperhatikan kesehatan giginya dengan bersiwak, berobat dengan berbekam, dan memperhatikan penampilan, termasuk tidak berwajah cemberut.

5. Jaga keharmonisan keluarga
Puasa adalah ibadah yang khusus untuk Allah swt. Tapi, punya efek yang luas. Termasuk dalam mengharmoniskan hubungan keluarga. Jadi, berpuasa bukan berarti menjauh dari istri karena taqarrub kepada Allah sepanjang malam. Bukan juga tiada hari tanpa i’tikaf. Rasulullah saw. berpuasa, tapi juga memenuhi hak-hak keluarganya. Dalam praktik keseharian, hanya di bulan Ramadhan kita bisa makan bersama secara komplit sekeluarga, baik ketika berbuka atau sahur. Di bulan lain hal ini sulit dilakukan. Keharmonisan keluarga juga bisa kita dapatkan dari shalat berjamaah dan tadarrus bersama.

6. Berdakwah
Selama Ramadhan kita punya kesempatan berdakwah yang luas. Karena, siapapun di bulan itu kondisi ruhiyahnya sedang baik sehingga siap menerima nasihat. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini. Rasulullah saw. bersabda, barangsiapa menunjuki kebaikan, baginya pahala sebagaimana orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun. Jika mampu, jadilah pembicara di kultum ba’da sholat zhuhur, ashar, dan subuh di musholah atau masjid. Bisa juga menjadi penceramah di waktu tarawih. Jika tidak bisa berceramah, buat tulisan. Sebarkan ke orang-orang yang Anda temui. Jika tidak bisa, bisa mengambil artikel-artikel dari majalah, fotocopy, lalu sebarkan. Insya Allah, berkah.
Ini sebenarnya hanyalah langkah awal bagi kerja yang lebih serius lagi. Dengan melakukan hal-hal sederhana seperti di atas, sesungguhnya Anda sedang melatih diri untuk menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain. Kata Rasulullah saw., mukmin yang baik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

7. Shalat Tawawih (Qiyamul Ramadhan)
Ibadah sunnah yang khas di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih (qiyamul ramadhan). Rasulullah saw., karena khawatir akan dianggap menjadi shalat wajib, melaksanakan shalat tarawih berjamaah bersama para sahabat tidak sepanjang Ramadhan. Ada yang meriwayatkan hanya tiga hari. Saat itu Rasulullah saw. melakukannya secara berjamaah sebanyak 11 rakaat dengan bacaan surat-surat yang panjang. Tapi, di saat kekhawatiran akan diwajibkannya shalat tarawih sudah tidak ada lagi, Umar bi Khattab menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih adalah 21 atau 23 rakaat (HR. Abdur Razzaq dan baihaqi).
Ibnu hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i berkata, “Beberapa riwayat yang sampai kepada kita tentang jumlah rakaat shalat tarawih menyiratkan ragam shalat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing. Kadang ia mampu melaksanakan shalat 11 rakaat, kadang 21, dan terkadang 23 rakaat, tergantung semangat dan antusiasmenya masing-masing. Dahulu mereka shalat 11 rakaat dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan dengan tongkat penyangga, sedangkan mereka shalat 21 atau 23 rakaat, mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek dengan tetap memperhatikan masalah thuma’ninah sehingga tidak membuat mereka sulit.”
Jadi, silakan Anda qiyamul ramadhan sesuai dengan kadar kemampuan dan antusiasme Anda.

8. I’tikaf
Inilah amaliyah ramadhan yang selalu dilakukan Rasulullah saw. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribada kepada Allah swt. Abu Sa’id Al-khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah beri’tikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan paling sering di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Sayangnya, ibadah ini dianggap berat oleh kebanyakan orang Islam, jadi sedikit yang mengamalkannya. Hal ini dikomentari oleh Imam Az-Zuhri, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan i’tikaf padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat.”
Mudah-mudahan Anda bukan dari golongan yang kebanyakan itu.

9. Lailatul Qadar
Ada bulan Ramadhan ada satu malam yang istimewa: lailatul qadar, malam yang penuh berkah. Malam itu nilainya sama dengan seribu bulan. Rasulullah saw. amat menjaga-jaga untuk bida meraih lailatul qadar. Maka, Beliau menyuruh kita mencarinya di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Kenapa? Karena, “Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar berdasarkan iman dan ihtissab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Begitu kata Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Bahkan, untuk mendapatkan malam penuh berkah itu, Rasulullah saw. mengajarkan kita sebuah doa, “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.” Ya Allah, Engkaulah Pemilik Ampunan dan Engkaulah Maha Pemberi Ampun. Ampunilah aku.

10. Umrah
Jika Anda punya rezeki cukup, pergilah umrah di bulan Ramadhan. Karena, pahalanya akan berlipat-lipat. Rasulullah saw. berkata kepada Ummu Sinan, seorang wanita Anshar, agar apabila datang bulan Ramadhan, hendaklah ia melakukan umrah, karena nilainya setara denagn haji bersama Rasulullah saw. (HR. Bukhari dan Muslim)

11. Zakat Fitrah
Zakat fitrah wajib dibayarkan sebelum hari Ramadhan berakhir oleh umat Islam, baik lelaki-perempuan, dewasa maupun anak-anak. Tujuannya untuk mensucikan orang yang melaksanakan puasa dan untuk membantu fakir miskin.

12. Perbanyaklah Taubat
Selama bulan Ramadhan Allah swt. membukakan pintu ampunan bagi hamba-hambanya dan setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api neraka. Karena itu, bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi kita untuk bertaubat kembali ke fitrah kita.

dakwatuna.com

Lebih Lanjut..

Selasa, 11 September 2007

Keikhlasan dan Keadilan (Kisah Masa Lalu...)

Setiap kali menjelang kelulusan, sejak SMP hingga sekarang ada suatu hal yang membuatku menangis terpuruk dalam sedih. Karena hal itu terkait dengan hati, benar-benar menguras seluruh energi jiwa.. Barangkali bagi orang lain hal ini bukanlah sesuatu yang penting, tetapi karena setiap manusia dicipta berbeda, bagiku ini adalah hal yang sangat penting...

Naik kelas 3 SMP, harapanku dapat berkumpul kembali dengan teman-teman sekelas saat kelas 1. Dengan dalih, kekompakan. Karena kelas 2 aku berada di kelas unggulan, yang masya Allah individualis sekali. Persaingan yang sangat ketat. Dan hal itu sangat tidak nyaman bagiku. Namun semangat belajar pun menjadi tinggi, hingga ku tak sadar bahwa bahwa yang masuk ke kelas 3 unggulan adalah yang posisi 5 besar paralel dari 2 kelas unggulan.. Alhasil, salah strategi..rangking ku terlampau tinggi untuk tidak masuk ke kelas unggulan. Menangis mendengar pembagian kelas saat itu...Dan entahlah ada semacam kekuatan dari tubuh ini untuk menghadap guru dan meminta dengan sedikit memaksa untuk mengeluarkanku dari kelas unggulan itu.Aneh memang, tapi ya..karena aku bisa melakukan sesuatu karena pengaruh kuat suasana hati. Kala hati sudah tidak nyaman, efeknya cukup besar. Alhamdulillah, akhirnya keinginanku terwujud... Aku kembali bersama teman-teman yang kuharapkan.

Naik kelas 3 SMA, hal yang sama terulang lagi. Cukup beda tipis. Sejak kelas 1 aku berada di kelas unggulan, dan agak terbiasa dengan suasana individualisnya. Naik kelas 3 aku berharap masuk ke kelas biasa, karena mengejar ranking..barangkali ada kesempatan untuk mengambil beasiswa atau program PMDK. 2 tahun di kelas unggulan cukup susah untuk berada di 3 besar. Paling tinggi peringkat 6 bagi prestasiku..Namun masya Allah, ternyata aku masuk di kelas unggulan ke 2..Sesak rasanya, kembali muncul kekuatan untuk menghadap ke guru, bahkan hingga menelepon wakasek. Akhirnya aku pun berada di kelas biasa..Sekali lagi, aneh memang.

Dan saat ini, hal serupa pun terjadi...
Sesak tubuh membayang...bingung...sedih...
Ku coba kembali 'memberontak' >>> apakah tidak ada yang lain ??? bingung akan amanah, overload
Dan, akhirnya 'pemberontakan' itupun berhasil...^_^Y

Belajar akan hakikat keikhlasan, ikhlas akan sebuah keputusan, pasrah menerima keadaan
Ataukah mencari keadilan dengan dalih kita yang lebih tahu apa yang kita butuhkan, bukan orang lain...Meski sesungguhnya Allahlah yang lebih tahu tentang kita...

*** Karena setiap detik adalah hikmah***

Lebih Lanjut..

Senin, 10 September 2007

Dan..Simpul Pun Terlepas...

Sedih….
Sebuah kata yang begitu terupaya untuk dihindari
Itulah iklim jiwa saat ini
Kesedihan yang tak mampu terlukis
Kesedihan yang serentak hadir dalam deretan jam

Ya…semua terjadi atas ijin Allah
Dan inilah jawaban atas do’a-do’a yang terpanjat
Agar Allah menjadikan diri ini ikhlas
Dan yakin inilah yang terbaik..
Terbaik untuk diri yang pandir
Terbaik untuk dakwah
Dan kebaikan-kebaikan yang lain

Karena hanya Allah yang bisa memahami

Hanya Allah, tiada yang lain

Sekalipun itu adalah aku

Aku hanyalah manusia lemah
Yang hanya bisa berharap dan berencana

Yang hanya bisa meminta dan merintih

Yang hanya bisa berangan-angan tanpa bisa mewujudkan

Inilah aku...
Yang hanya bisa menangis menghadapi semua ini
Yang hanya bisa pasrah menerima ketentuan ini
Karena aku...aku hanyalah lemah


Karena hidup tidak pernah terhenti dari kisahnya
Karena perjuangan tidak pernah terhenti sampai kemenangannya

Karena asa dan cita-cita tidak pernah redup hingga nafas menyentuh titik pemberhentiannya


Bangkitlah..
Mulailah hari baru..
Tatap matahari esok dengan segala optimisme..
Ketahuilah, kesedihan ini akan berlalu seiring waktu..
Tapi waktu tidak akan menunggu kita bila kita diam terpekur tak berbuat sesuatu..
Bangkitlah, untuk sebuah perubahan yang lebih baik..
Hidup yang lebih baik dari hari ini..
Jangan tertinggal oleh orang-orang yang berlari mengejar masa depannya..
Meninggalkan kita dalam lubang keterpurukan yang secara sadar telah kita gali sendiri...


Lebih Lanjut..