Bersyukurlah....
Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki semua yang diinginkan. Jika engkau memiliki semuanya, apalagi yang hendak dicari ?
Bersyukurlah saat engkau tidak mengetahui sesuatu, karena itu memberi kesempatan kepadamu untuk belajar. Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang engkau hadapi. Karena selama itulah engkau tumbuh menjadi dewasa.
Bersyukurlah atas keterbatasan yang engkau miliki, karena hal itu memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Bersyukurlah atas setiap tantangan baru, karena hal itu akan membangun kekuatan karaktermu.
Bersyukurlah atas kesalahan-kesalahan yang engkau perbuat. Karena hal itu memberimu pelajaran yang sangan berharga. Bersyukurlah ketika engkau lelah dan tak berdaya. Karena berarti engkau telah membuat suatu perbedaan.
Adalah mudah untuk bersyukur atas hal-hal yang baik.
Kehidupan yang bermakna adalah bagi mereka yang juga bersyukur atas kesulitan yang dihadapi. Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif.
Berusahalah bersyukur atas kesulitan yang engkau hadapi sehingga kesulitan itu akan menjadi berkah bagi dirimu.
BERANI HIDUP, TIDAK TAKUT MATI. TAKUT MATI, JANGAN HIDUP. TAKUT HIDUP, MATI SAJA.
>>> kiriman teman
Kamis, 06 September 2007
Haruskah Mengganti Sholat Yang Kita Tinggalkan..???
Assalamu'alaikum wr. Wb
Saya pernah menunda waktu sholat ashar sampai waktu tengah menjelang magrib. Bersamaan itu saya mendapatkan haid. Yang saya tanyakan, apakah yang harus saya lakukan? Apakah saya harus mengganti sholat ashar tersebut setelah saya selesai haid?
Jazakumulloh.
Ummu Azzam
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pada hakikatnya apabila seorang wanita mendapat haidh, maka gugurlah kewajibannya untuk melakukan shalat lima waktu. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
عَنْ عَائِشَةَ رضيَ اللهُ عَنْهَا: أنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ دَمَ الحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَإِذا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنِ الصَّلاةِ، فَإِذا كَانَ الآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي، رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابنُ حِبَّانَ وَالحَاكِمُ، وَاسْتَنْكَرَهُ أَبُو حَاتِمٍ
Dari Aisyah ra berkata, "Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadha, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, "Darah haidh itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar seperti itu, janganlah shalat. Bila sudah selesai, maka berwudhu'lah dan lakukan shalat. (HR Abu Daud dan An-Nasai, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).
`Dari Aisyah r.a berkata: `Dizaman Rasulullah SAW dahulu kami mendapat haid, lalu kami diperintahkan untuk mengqada` puasa dan tidak diperintah untuk mengqada` salat (HR Jama`ah).
Selain itu juga ada hadis lainnya:
`Dari Fatimah binti Abi Khubaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda: `Bila kamu mendapatkan haid maka tinggalkan salat`
Namun yang menjadi permasalahan adalah apabila seorang wanita belum sempat melakukan shalat yang sudah masuk waktunya, namun tiba-tiba mendapat haidh, apakah dia tetap wajib melaksanakan shalat karena sempat suci di dalam waktu shalat sebelum mendapat haidh?
Para ulama berpendapat bahwa apabila seorang wanita telah sempat memasuki waktu shalat dalam keadaan suci dari haidh, maka wanita itu diwajibkan untuk melakukan shalat. Seandainya shalat belum sempat dilaksanakan, lalu tiba-tiba dirinya mendapat haidhsehingga menjadi tidak boleh shalat, maka shalat yang belum sempat yang dilaksanakan itu wajib diganti dengan cara mengqadha'.
Tentu saja menggantinya nanti setelah selesai dari haidh dan suci dari janabah dengan cara mandi janabah.
Itu adalah pendapat para ulama terkait dengan kewajiban shalat yang belum sempat dikerjakan karena terhalang haidh, padahal sudah masuk waktu dan sempat mengalami masa sebelum haidh.
Hal sama berlaku juga dengan seorang wanita yang berhenti dari haidhnya beberapa saat menjelang berakhirnya waktu shalat. Misalnya waktu shalat maghrib jam 18.00, lima menit sebelum masuk waktu maghrib, seorang wanita mengalami berhenti dari haidh, maka dia wajib mandi dan melaksanakan shalat 'ashar. Kalau ternyata waktunya tidak mencukupi untuk shalat ashar, para ulama mengatakan bahwa wanita itu tetap harus mengqadha' shalatnya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc (eramuslim.com)
Niat Puasa Harus Tiap Malam atau di Awal Ramadhan Saja?
Saya mendengar bahwa syarat sah puasa adalah berniat pada tiap malam sebelum masuk waktu puasa. Yang jadi pertanyaan saya, apakah memang harus niat itu harus dilakukan setiap malam? Atau bisa dilakukan di awal ramadhan saja? Adakah pendapat yang berbeda dalam masalah ini?
Demikian pak Ustadz, sebelumnya kami ucapkan terima kashi.
Wassalam
Ahmad Miftah
miftahad@yahoo.com
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Niat puasa harus dilakukan pada malam hari sebelum masuk waktu shubuh. Istilah yang sering digunakan adalah tabyitunniyah, atau memabitkan niat. Maksudnya, di malam hari seseorang sudah harus berniat bahwa besoknya dirinya akan melaksanakan puasa.
Namun yang perlu diketahui, ketentuan tabyitunniyyah ini hanya berlaku pada puasa wajib saja, seperti puasa Ramadhan, puasa nadzar, puasa qadha' dan puasa kaffarah saja. Sedangkan puasa-puasa sunnah, seperti puasa Senin dan Kamis, puasa ayyamul biiydh, puasa 6 hari bulan Syawwal dan seterusnya, tidak membutuhkan tabyitunniyah. Sehingga asalkan seseorang belum sempat makan dan minum sejak pagi, lalu tiba-tiba terbetik keinginnan untuk berpuasa, dia bisa langsung berpuasa.
Tinggal masalahnya, apakah niat puasa di bulan Ramadhan itu harus dilakukan tiap malam, ataukah bisa dilakukan hanya di malam pertama Ramadhan saja. Untuk menjawab masalah ini, rupanya para ulama berbeda pendapat.
1. Jumhur Ulama: Harus Setiap Malam
Menurut jumhur ulama, niat itu harus dilakukan pada setiap malam yang besoknya kita akan berpuasa secara satu per satu. Tidak bisa digabungkan untuk satu bulan.
Logikanya, karena masing-masing hari itu adalah ibadah yang terpisah-pisah dan tidak satu paket yang menyatu. Buktinya, seseorang bisa berniat untuk puasa di suatu hari dan bisa berniat tidak puasa di hari lainnya.
Oleh karena itu, jumhur ulama mensyaratkan harus ada niat meski tidak perlu dilafazkan pada setiap malam hari bulan ramadhan. Tanpa niat tiap malam, maka puasa menjadi tidak sah untuk dilakukan, lantaran seseorang tidak berniat puasa.
2. Kalangan Fuqaha Al-Malikiyah: Boleh Niat Untuk Satu Bulan
Sedangkan kalangan fuqaha dari Al-Malikiyah mengatakan bahwa tidak ada dalil nash yang mewajibkan untuk tiap malam melakukan niat yang terpisah. Bahkan bila mengacu kepada ayat Al-Quran Al-Kariem, jelas sekali perintah untuk berniat puasa satu bulan secara langsung dan tidak diniatkan secara hari per hari.
Ayat yang dimaksud oleh Al-Malikiyah adalah:
…Siapa yang menyaksikan bulan (Ramadhan) itu hendaklah dia berpuasa…(QS. Al-Baqarah: 185)
Menurut mereka, ayat Al-Quran Al-Kariem sendiri menyebutkan bahwa hendaklah ketika seorang mendapatkan bulan itu, dia berpuasa. Dan bulan adalah ism untuk sebuah rentang waktu. Sehingga berpuasa sejak hari awal hingga hari terakhir dalam bulan itu merupakan sebuah paket ibadah yang menyatu, tidak terpisah-pisah.
Dalam hal ini mereka membandingkannya dengan ibadah haji yang membutuhkan masa pengerjaan yang berhari-hari. Dalam haji tidak perlu setiap hari melakukan niat haji. Cukup di awalnya saja seseorang berniat untuk haji, meski pelaksanaannya bisa memakan waktu seminggu.
Demikian perbedaan pendapat di antara para ulama. Maka buat kita, rasanya tidak ada salahnya bila kita melakukan ikhtiyat, dengan cara kita berniat di awal Ramadhan untuk berpuasa sebulan, sebagaimana pendapat para ulama mazhab Malikiyah. Namun jangan lupa setiap malam untuk berniat lagi, demi memenuhi ijtihad jumhur ulama. Kalau seandainya terlupa, setidaknya sudah berniat di awal Ramadhan.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc (eramuslim.com)
Selasa, 04 September 2007
First Meeting
Datang pada pukul 16.45..di sebuah tempat yang cukup asing. Namun karena sudah terbiasa melewati jalan-jalan setapak itu, tidak ada lagi rasa canggung untuk memasuki halaman rumah yang telah penuh dengan barisan kendaraan bermotor.
45 menit terlambat dari jadwal yang ditentukan..padahal pertemuan pertama pastilah berkesan, entah kesan yang baik ataupun kesan yang kurang. Acara saat itu adalah bincang-bincang santai. Senang, sedih, bingung, sungkan, menjadi satu berpadu memenuhi ruang hati..
Senang karena tetap bersama dengan kawan seperjuangan meski kesedihan itu ada karena sebagian di antara kami sudah tidak bersama lagi...4 dari 9 orang telah ditentukan untuk berada di ruang lain...Sedih..karena tidak pernah ada lintasan sedikitpun dalam hati ini bahwa rihlah itu adalah kebersamaan kami menjelang perpisahan, sedih...karena makan-makan itu adalah pertemuan terakhir kam, tanpa ada kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan...Bingung...karena hati ini belum bisa menerima sepenuhnya kenyataan ini...sungkan karena inilah kami yang begitu mendominasi forum dibanding orang yang telah lama ada sebelum kami...
4 tahun
Itulah masa kami berlima bersama sejak lahir di ITS hingga menjelang purna tugas sekarang ini. Dalam perjalanan selama rentang waktu itu begitu banyak hal yang terjadi. Ujian keikhlasan, ujian tali silaturahim, ujian komitmen, dan ujian kasih sayang mengiringi perjalanan kami..
Yach...sampai detik ini hanya 5 orang yang bertahan dari sekian banyak orang yang datang dan yang pergi.
Senin, 03 September 2007
Fiqh Ringkas Tentang Puasa (2-habis)

Disunnahkan memperbanyak tilawah Al-Qur'an, memberi makan orang puasa untuk berbuka, dan memperbanyak sedekah. Di sepuluh hari terakhir, sangat dianjurkan beri'tikaf.
Yang Dibolehkan Tidak Berpuasa
1. Orang yang safar (dalam perjalanan). Tapi, ada ulama yang memberi syarat. Seseorang boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan menggantinya di bulan lain, jika safarnya menempuh lebih dari 89 km dan safarnya bukan untuk maksiat serta perjalanannya dimulai sebelum fajar. Namun Imam Hanbali membolehkan berbuka, walaupun safarnya dimulai pada siang hari. Alasan dibolehkannya berbuka adalah karena safar mengandung masyaqqah (kesusahan). Jika seseorang yang safar mengambil rukshah ini, ia wajib mengganti puasanya itu di hari lain sejumlah hari ia tidak berpuasa.
2. Orang yang sedang sakit. Sakit yang masuk dalam kategori ini adalah sakit yang dapat menghambat kelangsungan ibadah puasa dan berdampak pada keselamatan fisik jika dia tetap berpuasa. Untuk memutuskan dan menilainya, diperlukan pendapat dokter. Jika seseorang tidak berpuasa karena sakit, ia wajib mengganti puasa yang ditinggalkannya di bulan lain ketika ia sudah sehat.
3. Wanita hamil dan ibu yang menyusui. Wanita hamil atau ibu menyusui boleh tidak berpuasa, tapi harus menggantinya di hari lain. Jika dia tidak berpuasa karena takut dengan kondisi dirinya sendiri, maka hanya wajib bayar qadha' saja. Tapi jika dia takut akan keselamatan
janin atau bayinya, maka wajib bayar qadha' dan fidyah berupa memberi makan sekali untuk satu orang miskin. Hal ini diqiyaskan dengan orang sakit dan dengan orang tua yang uzur.
4. Orang yang lanjut usia. Orang yang sudah lanjut usia dan tidak sanggup puasa lagi tidak wajib puasa, tapi wajib bayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan.
5. Orang yang mengalami keletihan dan kehausan yang berlebihan. Jika kondisi itu dikhawatirkan mengganggu keselamatan jiwa dan akal, maka boleh berbuka dan wajib qadha'.
6. Orang yang dipaksa (ikrah) tidak berpuasa. Orang seperti ini boleh berbuka, tapi wajib mengqadha'.
Permasalahan Sekitar Puasa
1. Untuk puasa Ramadhan, wajib memasang niat berpuasa sebelum habis waktu sahur.
2. Saat berpuasa seorang suami boleh mencium isterinya, dengan syarat dapat menahan nafsu dan tidak merangsang syahwat.
3. Orang yang menunda mandi besar (janabah) setelah sahur atau setelah masuk waktu subuh, puasanya tetap sah. Begitu juga dengan orang yang berpuasa dan mendapat mimpi basah di siang hari, puasanya tetap sah.
4. Dilarang suami-istri berhubungan badan di siang hari ketika berpuasa. Hukuman bagi orang yang bersenggama di siang hari pada bulan Ramadhan adalah memerdekakan budak. Jika tidak mampu memerdekakan budak, suami-istri itu dihukum berpuasa dua bulan penuh secaara berturut-turut. Jika tidak mampu juga, mereka dihukum memberi makan 60 orang miskin sekali makan. Kalau perbuatannya berulang pada hari lain, maka hukumannya berlipat. Kecuali, pengulangannya dilakukan di hari yang sama.
5. Orang yang terlupa bahwa ia berpuasa kemudian makan dan minum, maka puasanya tetap sah. Setelah ingat, ia harus melanjutkan puasanya hingga waktu berbuka di hari itu juga.
6. Hanya muntah yang disengaja yang membatalkan puasa. Ada tiga perkara yang tidak membatalkan puasa: bekam, muntah (yang tidak disengaja), dan bermimpi (ihtilam). Sikat gigi atau membersihkan gigi dengan syiwak diperbolehkan. Hal ini biasa dilakukan oleh Rasulullah
saw. Tapi, ada ulama yang memakruhkan menyikat gigi dengan pasta gigi setelah matahari condong ke Barat.
7. Orang yang mempunyai hutang puasa tahun sebelumnya, harus dibayar sebelum masuk Ramadhan yang akan berjalan. Jika belum juga ditunaikan, harus dibayar setelah Ramadhan yang tahun ini. Tapi, ada ulama berpendapat, selain harus diqadha' juga diwajibkan memberi
makan orang miskin.
8. Para ulama sepakat bahwa orang yang wafat dan punya utang puasa yang belum ditunaikan bukan karenakan kelalaian tapi disebabkan ada uzur syar'i seperti sakit atau musafir, tidak ada qadha yang harus ditanggung ahli warisnya. Tapi jika ada kelalaian, ada sebagian ulama
mewajibkan qadha terhadap ahli warisnya dan sebagian lain mengatakan tidak.
9. Bagi mereka yang bekerja dengan fisik dan terkategori berat –seperti pekerja peleburan besi, buruh tambang, tukang sidang, atau yang lainnya– jika berpuasa menimbulkan kemudharatan terhadap jiwa mereka, boleh tidak berpuasa. Tapi, wajib mengqadha'. Jumhur ulama mensyaratkan orang-orang yang seperti ini wajib baginya untuk sahur dan berniat puasa, lalu berpuasa di hari itu. Kalau tidak sanggup, baru boleh berbuka. Berbuka menjadi wajib, kalau yakin kondisi ketidak sanggupan itu akan menimbulkan kemudharatan.
...:Jika Komitmen Benar-Benar Tulus:...
Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus..., maka tidak akan banyak da'i yang berguguran di tengah jalan. Dakwah akan terus melaju dengan mulus untuk meraih tujuan-tujuannya dan mampu memancangkan prinsip-prinsipnya dengan kokoh.
Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus..., niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, pikiran mereka akan bersatu, dan fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat, akan jarang terjadi.
Jika komitmen da'i benar-benar tulus..., maka sikap toleran akan semarak, rasa saling mencintai akan merebak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan para da'i akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menopang.
Jika komitmen da'i benar-benar tulus..., maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan di barisan depan atau belakang. Komitmennya tidak akan berubah ketika ia diangkat menjadi pemimpin yang berwenang mengeluarkan keputusan dan ditaati atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau tudak dihormati.
Jika komitmen da'i benar-benar tulus..., maka hati seortang da'i akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangannya, sehingga tidak tersisa tempat sekecil apapun untuk permusuhan dan dendam.
Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus..., maka sikap toleran dan saling memaafkan akan terus berkembang sehingga tidak ada momentum yang bisa menyulut kebencian, menaruh dendam, dan amarah. Namun sebaliknya, semboyan yang diusung bersama adalah "Saya sadar bahwa saya sewring melakukan kesalahan, dan saya yakin anda akan selalu memaafkan saya".
Jika komitmen da'i benar-benar tulus..., maka....
Minggu, 02 September 2007
Khutbah Rasulullah Menjelang Ramadhan
Selain memerintah shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah pesan Nabi tatkala memasuki Ramadhan.
Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA.
Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin.
Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.
Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba- Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar.
Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.
Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma.
Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan- Nya di hari kiamat.
Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan.
Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu.
Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.
Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka.
Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”
Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).
Sumber :
www.Taushiyah- online.com dan www.Hidayatullah. com
Akhirnya...

00:32:12 / 01-09-2007
Sebuah pesan singkat yang kuterima saat sedang jauh dalam buaian rasa kantuk..
Saat-saat yang sudah tak mampu lagi mendengar nada pengingat pesan itu
Hingga ku tersadar saat pukul 03:08, dan betapa terkejutnya diri ini dengan sebuah kata 'adik-adik' yang tertulis dalam pesan singkat itu..
Masya Allah, segera ku mainkan jari-jari ini, mengetik huruf per huruf dan ku kirim ke beberapa orang sahabat...Dengan maksud menanyakan kondisi terakhir mereka...
Lama tidak ada jawaban, hingga pukul 6 lebih.
Tiba-tiba terdengar bunyi nada dari HP...
Ow..ternyata mereka pun menerima SMS yang sama... Tapi yang lain ????
bunyi HP berdering kembali...dan ternyata tanggapan yang sama...
Sementara itu...beberapa orang belum diketahui kondisinya...trouble connection..
Untuk kesekian kali HP berbunyi...alhamdulillah nada kata yang sama.
4 orang mengalami hal yang sama...tinggal 3 orang lagi...
innalillahi..2 orang belum ada hubungan...yang 1 belum ada jawaban
Semoga 'adik-adik' yang dimaksud adalah untuk 7 orang yang tersisa...Amiin
Next monday on 4 pm
Dan perpisahan pun tidak sepenuhnya terjadi...
Only me who know this..
Sabtu, 01 September 2007
Fiqih Ringkas Tentang Puasa (bag.1)

Shaum atau puasa secara bahasa bermakna al-imsak atau menahan diri dari sesuatu seperti menahan diri dari makan atau berbicara. Makna shaum seperti ini dipakai dalam ayat ke-26 surat Maryam. "Maka makan dan minumlah kamu, wahai Maryam, dan tenangkanlah hatimu; dan jika kamu bertemu seseorang, maka katakanlah saya sedang berpuasa dan
tidak mau berbicara dengan siapapun."
Sedangkan secara istilah, shaum adalah menahan dari dari dua jalan syahwat, mulut dan kemaluan, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan pahala puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.
Keutamaan Bulan Ramadhan
Dari Ibnu Mas'ud, Rasulullah saw. bersabda, "Penghulunya bulan adalah bulan Ramadhan dan penghulunya hari adalah hari Jum'at." (Thabrani)
Rasulullah saw. bersabda, " Kalau saja manusia tahu apa yang terdapat pada bulan Ramadhan, pastilah mereka berharap Ramadhan itu selama satu tahun." (Thabrani, Ibnu Khuzaimah, dan Baihaqi)
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, "Apabila datang bulan puasa, dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka." (Bukhari dan Muslim)
Rasulullah saw. juga bersabda, "Apabila datang malam pertama bulan Ramadhan, para setan dan jin kafir akan dibelenggu. Semua pintu neraka ditutup sehingga tidak ada satu pintu pun yang terbuka; dan dibuka pintu-pintu surga sehingga tidak ada satu pun yang tertutup. Lalu terdengara suara seruan, "Wahai pencari kebaikan, datanglah! Wahai pencari kejahatan, kurangkanlah. Pada malam itu ada orang-orang yang dibebaskan dari neraka. Dan yang demikian itu terjadi pada setiap malam." (Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Keutamaan Puasa Ramadhan
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan penuh harap, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang shalat malam pada bulan puasa, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Bukhari dan Muslim)
Waktu Berpuasa
Ibadah puasa dimulai sejak masuknya fajar shadiq (waktu shalat Subuh) hingga terbenamnya matahari (masuk waktu shalat Maghrib). Allah menerangkan di dalam al-Qur'an dengan istilah benang putih dari benang hitam.
Doa Berbuka Puasa
Jika berbuka puasa, Rasullullah saw. membaca, "Allahumma laka shumtu wa `ala rizqika afthartu." Artinya, ya Allah, untukmu aku berpuasa dan dengan rezeki yang engkau berikan kami berbuka. Dan Rasulullah saw. berbuka puasa dengan kurma. Jika tidak ada, cukup dengan air putih.
Sunnah-sunnah Dalam Berpuasa
Sebelum berpuasa, disunnahkan mandi besar dari junub, haidh, dan nifas. Bagi orang yang berpuasa, disunnahkan melambatkan makan sahur dan menyegerakan berbuka. Berdo'a sebelum berbuka.
Agar amalan puasa tidak rusak dan pahalanya tidak gugur, orang yang berpuasa disunnahkan menjaga anggota badan dari maksiat, meninggalkan obrolan yang tidak berguna, meninggalkan perkara syubhat dan membangkitkan syahwat.
http://www.dakwatuna.com+-
Membangun Tradisi Ilmu di Bulan Ramadhan
Suatu ketika, pada akhir bulan Sya’ban, Rasulullah saw berkhutbah di hadapan para sahabat :
‘’Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa agung dan lagi penuh keberkatan; yaitu bulan yang didalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan ; bulan yang Allah telah menjadikan puasa-Nya suatu fardhu dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’. Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu perbuatan di dalam bulan itu, maka samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di bulan lain. Dan barangsiapa menunaikan suatu fardhu di bulan Ramadhan, samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedangkan kesabaran, pahalanya adalah surga. Ramadhan adalah bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah menambah rizki para mukmin di dalamnya. Barangsiapa yang memberi makanan berbuka di dalamnya kepada orang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari api neraka. Orang yang memberikan makanan berbuka puasa, baginya seperti pahala orang yang mengerjakan puasa itu, tanpa sedikit pun berkurang.’’ (HR. Ibn Khuzaimah dari Salman r.a.; dikutip dari buku Pedoman Puasa, karya Prof. Hasbi Ash-Shiddieqy, 1986:20, dengan sedikit perubahan redaksi terjemahan).
Sebagai muslim yang meyakini hal-hal ghaib, semisal soal pahala dan dosa, maka kita perlu menyiapkan diri sebaik-baiknya dalam menyambut bulan Ramadhan. Di bulan inilah kita diberikan kesempatan untuk menabung pahala amal sebanyak-banyaknya, agar di akhirat nanti, timbangan amal baik kita lebih banyak daripada timbangan amal jahat; agar kita tidak muflis (bangkrut). Rasulullah saw menyebutkan adanya orang-orang muflis di hari kiamat. Yaitu orang-orang yang amal-amal baiknya habis dibagikan kepada orang lain. Orang seperti ini bangkrut karena semasa di dunia tidak menyelesaikan berbagai urusannya dengan orang lain, semisal masalah hutang, penyerobotan harta orang lain, penganiayaan, dan sebagainya. Karena itulah, seyogyanya kita memanfaatkan bulan Ramadhan untuk memperbanyak tabungan amal baik kita di akhirat.
Salah satu amal yang sangat tinggi nilainya di hadapan Allah adalah segala aktivitas yang berkaitan dengan urusan keilmuan, baik menuntut ilmu, mengajarkannya, atau segala aktivitas yang terkait dengan pengembangan keilmuan. Melalui ilmulah manusia dapat mengenal Allah dan memahami cara beribadah kepada-Nya dengan benar. Hanya dengan ilmu manusia dapat memahami mana yang benar dan mana yang salah, mana yang tauhid dan mana yang syirik, mana yang halal dan mana yang haram. Allah SWT menjanjikan:
”Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah:11)
Rasulullah saw juga bersabda:
”Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka Allah menjadikannya faqih (memahami dengan baik) dalam masalah agama (Islam) dan mengilhami petunjuk-Nya.” (Muttafaq alaihi).
”Ulama adalah pewaris para Nabi.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibn Majah dan Ibn Hibban).
”Manusia itu laksana barang tambang seperti tambang emas dan perak. Orang-orang yang terbaik di masa jahiliyah adalah orang-orang yang terbaik juga di dalam Islam, apabila mereka memahami Islam.” (Muttafaq alaihi, dari Abu Hurairah).
Umar r.a. berkata: ”Kematian seribu ’abid (ahli ibadah) yang mendirikan malam dan puasa di siang hari adalah lebih ringan daripada kematian seorang ’alim yang mengetahui apa yang dihalalkan dan yang diharamkan oleh Allah.”
Karena begitu pentingnya masalah keilmuan ini, maka Allah memerintahkan, dalam kondisi apa pun, maka masyarakat harus tetap memberikan perhatian terhadap ilmu. Bahkan disaat perang sekali pun. ”Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu tentang agama.” (QS at-Taubah: 122). ”Maka tanyakanlah kepada orang yang mempunyai ilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS an-Nahl: 43).
Rasulullah saw bersabda:
”Barangsiapa menempuh jalan yang padanya dia menuntut ilmu, maka Allah telah menuntunnya jalan ke surga.” (HR Muslim).
”Sesungguhnya malaikat itu membentangkan sayapnya pada orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang ia lakukan.” (HR Ahmad, Ibn Hibban, dan Hakim).
”Barangsiapa didatangi kematian dimana dia sedang menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka antara dia dan para Nabi di surga adalah satu tingkat derajat.” (HR Ad Darimi dan Ibn Sunni dengan sanad hasan).
Ibn Abbas r.a. berkata: ”Mendiskusikan ilmu pada sebagian malam lebih saya sukai daripada menghidupkan malam itu.”
Imam Syafii rahimahullah berkata: ”Menuntut ilmu adalah lebih utama daripada shalat sunnah.” (NB. Hadits shahih dan hasan serta pendapat sahabat dikutip
dari Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Terjemahan oleh Drs. H. Moh. Zuhri, penerbit Asy-Syifa).
Para ulama yang merupakan pewaris para Nabi selama ini begitu gigih dalam mengembangkan keilmuan. Merekalah yang telah berjasa menjaga otentisitas Islam sehingga kita dapat mewarisi agama yang dibawa oleh Rasulullah saw ini. Kegigihan para ulama dalam mengembangkan keilmuan Islam begitu tingginya. Tradisi keilmuan itulah yang mampu mengantarkan kejayaan Islam dalam berbagai bidang kehidupan. Apalagi, saat misi Islam itu mendapat dukungan dari para penguasa yang baik.
Saat berkunjung ke Indonesia, Prof. Wahbah az-Zuhaili, penulis kitab al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu dan Tafsir al-Munir pernah ditanya, berapa jam beliau membaca dan menulis. Beliau menjawab: Tidak kurang dari 16 jam sehari. Imam Nawawi (w. 676 H), penulis Kitab Riyadhush Shalihin, al-Majmu’, dan Syarah Shahih Muslim, disebutkan bahwa beliau setiap hari belajar 8 cabang ilmu dari subuh sampai larut malam. Al-Mizzi, Ibn Katsir, Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, Ibn Hajar, al-Suyuthi, al-Sakhawi, dan ulama besar lainnya, menyisihkan lebih dari 15 jam per hari untuk membaca dan menulis. (Kisah beberapa ulama ini dikutip dari buku Selangkah Lagi Mahasiswa UIN jadi Kiyai, karya Dr. Ahmad Lutfi Fathullah).
Karena begitu besarnya keberkahan dan pahala yang dijanjikan Allah di bulan Rmadhan, maka sayang sekali, jika bulan Ramadhan nanti tidak kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk menuntut ilmu dan mengembangkan berbagai aktivitas keilmuan lainnya.
Disamping berbagai aktivitas ibadah lain, aktivitas keilmuan harusnya tetap menjadi aktivitas utama di bulan Ramadhan. Ada tradisi yang baik di berbagai pondok pesantren di Indonesia saat memasuki bulan Ramadhan. Biasanya, mereka mengadakan ’pasan’, berupa kajian kitab-kitab di bulan Ramadhan secara maraton. ara santri, baik yang pendatang musiman maupun santri tetap, diwajibkan mengkaji kitab-kitab mulai habis subuh sampai malam hari, dengan beberapa kali penggal istirahat.
Tradisi keilmuan yang baik ini perlu dikembangkan lebih jauh. Sudah tiba saatnya di bulan Ramadhan ini, majlis-majlis taklim dan masjid-masjid bukan hanya mengadakan acara baca Al-Quran, tetapi juga mengadakan kajian tentang aqidah dan pemikiran Islam, kajian tentang ulumul Quran, ulumul hadits, bahasa Arab, dan berbagai kajian bidang keilmuan Islam lainnya. Sebab, virus-virus perusak pemikiran dan aqidah Islam kini bergentayangan begitu bebas di tengah-tengah kita.
Beberapa tahun belakangan ini, kita menyaksikan, kaum liberal di Indonesia juga ikut-ikutan memanfaatkan bulan Ramadhan ini untuk menyebarkan paham mereka.
Biasanya dilakukan dengan membuat program-program tertentu di media massa atau memanfaatkan forum buka bersama yang melibatkan berbagai aktivis lintas agama. Di zaman ’serba bebas’ seperti sekarang, kita tentu tidak bisa melarang mereka. Apalagi, mereka disokong oleh kekuatan-kekuatan media dan pendanaan global. Yang bisa kita lakukan adalah memahami dengan baik, maka ide yang benar dan mana ide yang bathil, dari mana pun datangnya. Kita hanya menyatakan, bagi kita amal kita dan bagi mereka amal mereka. Masing-masing akan bertanggung jawab di hadapan Allah nanti.
Mudan-mudahan Allah meberikan berkah kepada kita di bulan Sya’ban ini dan memberikan kesempatan kepada kita untuk memasuki bulan Ramadhan tahun ini dalam keadaan iman yang selamat dan badan yang sehat wal ’afiat. Amin. Depok, 1 September 2007 www.hidayatullah.com
Lebih Lanjut..

