
Tingkatan manusia ketika shalat berbeda-beda. Ada lima tingkatan yang
perlu kita perhatikan sebagai tolok ukur, di tingkat manakah kita berada.
Dalam pengantar buku Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim rahimahullah
mengatakan bahwa tidak akan ada yang bisa memahami dan merasakan nilai
tingkatan-tingkatan ini kecuali orang-orang yang bergerak menaiki
tingkatan itu. Tahukah maksudnya?
Tingkatan Pertama
Di sinilah letak orang-orang yang tidak menjaga waktu shalat. Ia tidak
menjaga wudhu, tidak juga rukun-rukun shalat yang zhahir serta
kekhusyukan. Orang semacam ini akan mendapat hukuman atas shalatnya
sebagaimana disepakati oleh semua ulama.
Tingkat Kedua
Disini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu
dan juga rukun-rukun shalat yang zhahir, namun ia melalaikan
kekhusyukan. Orang seperti ini akan dihisab shalatnya dengan keras.
Kebanyakan orang berada dalam tingkatan ini. Iya, kan?
Apa saat ini kita mulai berpikir tentang keadaan kita ???
Tingkatan Ketiga
Di tingkat ini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga
wudhu, dan juga rukun-rukun shalat yang zhahir, Ia tampak berjuang
gigih melawan setan. Di awal-awal tampak ia bisa khusyuk, tapi
kemudian setan berhasil mencuri perhatiannya. Ia kembali melawan, dan
demikian seterusnya silih berganti. Orang seperti ini akan tertutup
kekurangannnya.
Ia berjuang gigih dalam shalatnya. Tentu ia akan mendapat dua pahala,
pahala shalat di bagian mana ia berhasil khusyuk dan pahala perjuangan
melawan setan.
Tingkatan semacam ini sering terjadi. Sebab seseorang akan sering
mengalami perubahan keadaan, dan setan pun terus berusaha untuk
mendapatkan kesempatan menggoda.
Tingkatan Keempat
Ditingkat ini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga
wudhu, menjaga rukun-rukun shalat, dan melaksanakan shalat dengan
khusyuk. Ini merupakan tingkatan yang sangat tinggi, sebab ia menang
melawan setan setelah perjuangan yang amat gigih. Orang seperti ini
akan mendapat pahala penuh.
mungkin kita mengatakan, "Kalau begitu inilah tingkatan yang terakhir.
Maka, yang tepat adalah empat tingkatan dan bukannya lima." Saudaraku,
jangan terburu-buru. Simaklah sekarang tingkatan berikutnya:
Tingkatan Kelima
Tingkatan ini adalah tempat bagi orang yang menjaga penuh waktu
shalat, wudhu, rukun-rukun, dan kekhusyukan. Orang ini juga
menanggalkan hati dan menyerahkannya sepenuh jiwa kepada Allah SWT.
Orang ini tidak lagi berada didunia. Ia ada bersama Allah. Tidak lagi
terkait dengan ikatan-ikatan dunia. Ia tidak lagi melihat atau
mendengar. Inilah maksud ucapan Rasulullah SAW, "Pucuk kebahagiaanku
terletak di dalam shalat." Orang semacam ini adalah orang istimewa
yang dekat dengan Rabbnya.
Sebelumnya mungkin kita telah mengira tidak ada lagi tingkatan setelah
tingkatan keempat.
Sungguh, kebaikan orang-orang shalih masih merupakan kejelekan bagi
orang-orang istimewa.
Alangkah kasihan orang yang tidak mampu merasakan kemanisan ini.!
Saudaraku tercinta, sekarang mari kita jawab pertanyaan berikut: "Di tingkat
mana kita berada?"
semoga bermanfaat...
Sumber dari: http://www.jkmhal. com
Kamis, 07 Juni 2007
Tingkatan Manusia Ketika Shalat
Kualitas Pribadi Muslim

10 Kualitas Pribadi Muslim
1. Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.
Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak". Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.
2. Rendah Hati
Beda dgn rendah diri yg merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.
3. Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yg setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.
4. Bersikap Positif
Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan drpd keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.
5. Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.
6. Bertanggung Jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan.
Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.
7. Kepercayaan Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.
8. Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dr kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.
9. Easy Going / optimisme
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.
10. Empaty / kepedulian
Empati adalah sifat yg sangat mengagumkan. Orang yg berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.
muhammad kiran (ukhuwah sehati)
Senin, 04 Juni 2007
Sesungguhnya Allah Tidak Rumit.....
Rico Atmaka (majelis sehati) Lebih Lanjut..
KeTeNanGan HaTi
Tidak mudah untuk dapat menikmati manisnya iman. Namun sebenarnya juga tidak sulit untuk meraih kenikmatan itu. Iya..semua tergantung niat bahkan azzam hati ini. Tatkala dalam keseharian, kita berupaya menjaga tingkah, tutur kata, pandangan, pendengaran, hingga qalbu, subhanallah…begitu indahnya ketenangan jiwa, kelapangan hati yang takkan bisa tergantikan oleh apapun. Barangkali bisa oleh kenikmatan duniawi, tapi itupun sesaat dan hanya sebagai luapan emosi belaka.
Ketenangan itu hanya bersumber dari Yang Memiliki Kehidupan, Yang Menguasai Jiwa, dan Yang Membolak-Balikan Hati.
Kamanakah lagi kita berlari saat masalah mengejar…
Kemanakah lagi kita mengadu saat gelisah tak mau beranjak…
Kemanakah lagi kita memohon saat tiada lagi yang mu mempedulikan kita...
Seandainya semua manusia tahu, bahwa sumber ketenangan hati ini adalah dari Nya…
Pastilah tiada lagi peperangan, kekacauan, penindasan, atau apapun istilah keserakahan
Namun inilah kehendakNya..
Dia yang berkehendak akan adanya perjuangan
Dia yang berkehendak akan adanya pengorbanan
Dia yang berkehendak akan orang-orang yang mencintaiNya
Dia yang berkehendak akan adanya jihad fi sabilillah..
Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang pilihan Nya..
Lebih Lanjut..Mandi Junub Apakah Mesti Keramas?
Pak Ust. yang dirahmati Allah.
Saya ingin menanyakan perihal mandi junub (mandi besar), jika habis bersetubuh. Apakah mandi junub tersebut mesti keramas (membasahi kepala dengan samphoo). Sekian dan terima kasih.
Sury Fathiya Hanifa
fathiya at eramuslim.com
Jawaban
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Keramas itu umumnya dipahami sebagai mencuci rambut dengan shampo. Bila demikian pengertiannya, maka mandi junub itu tidak identik dengan keramas.
Karena yang penting dalam mandi junub adalah menyampaikan air ke seluruh tubuh, atau dengan kata lain, membasahi seluruh bagian tubuh kita dengan air. Dan tidak harus dengan sabun atau shampoo. Walaupun juga bukan merupakan larangan.
Barangkali istilah orang-orang tua kita di masa lalu terbiasa menyebut mandi dengan membasahi kepala dengan sebutan 'keramas'. Sehingga pada masa berikutnya istilah itu mengalami pergeseran makna menjadi cuci rambut dengan menggunakan cairan pembersih (shampoo). Pergeseran makna seperti inilah yang barangkali melahirkan sedikit kerancuan, sehingga perlu diluruskan kembali.
Pendeknya, yang dinamakan mandi janabah hanyalah niat dan meratakan air ke seluruh tubuh. Hanya air dan tidak perlu dengan shampo atau cairan pembersih apapun.
Adapun urutan-urutan tata cara mandi junub, adalah sebagai berikut:
- Mencuci kedua tangan dengan tanah atau sabun lalu mencucinya sebelum dimasukan ke wajan tempat air
- Menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri
- Mencuci kemaluan dan dubur.
- Najis-nsjis dibersihkan
- Berwudhu sebagaimana untuk sholat dan menurut jumhur disunnahkan untuk mengakhirkan mencuci kedua kaki
- Memasukan jari-jari tangan yang basah dengan air ke sela-sela rambut, sampai ia yakin bahwa kulit kepalanya telah menjadi basah
- Menyiram kepala dengan 3 kali siraman
- Membersihkan seluruh anggota badan
- Mencuci kaki
Keterangan seperti ini didasarkan pada sejumlah petunjuk hadits nabi SAW. Salah satu di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Aisyah ra.
Aisyah ra. berkata: Ketika mandi janabah, Nabi SAW memulainya dengan mencuci kedua tangannya, kemudian ia menumpahkan air dari tangan kanannya ke tangan kiri lalu ia mencuci kemaluannya kemudia berwudku seperti wudhu` orang shalat. Kemudian beliau mengambil air lalu memasukan jari-jari tangannya ke sela-sela rambutnya, dan apabila ia yakin semua kulit kepalanya telah basah beliau menyirami kepalnya 3 kali, kemudia beliau membersihkan seluruh tubhnya dengan air kemudia diakhir beliau mencuci kakinya. (HR Bukhari/248 dan Muslim/316)
Wallahu a'lam bish-shawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhAhmad Sarwat, Lc.
Minggu, 03 Juni 2007
Al-Ma’tsurat Dha’if ???
Al-Ikhwan.net |
AlhamduliLLAAHi wash Shalatu was Salamu ‘ala RasuliLLAAHi wa ‘ala ‘alihi,
Ikhwah wa akhwat fiLLAAH,
Semoga ALLAH SWT senantiasa mengumpulkan kita semua setiap waktu dalam manisnya ibadah, lisan yang basah dengan dzikruLLAAH, tubuh yang penat & letih dalam memperjuangkan ummat & membela agama ALLAH, hati yang ikhlas dan jauh dari hasad & ghill, aamiin ya RABB…
Dan segala puji bagi ALLAH jua, yang dengan nikmat-NYA telah menunjukkan kepada dakwah ini sebagian hasil dari perjuangan para mujahid-NYA, dakwah ini sedikit demi sedikit telah mulai mewarnai kehidupan berpolitik & bernegara, sekalipun masih belajar & walaupun dengan tertatih-tatih & terjungkal disana-sini, ia telah mulai menampakkan berbagai hasil positifnya bagi para penanamnya, liyu’jibuz-zurra’a liyaghizha bihimul kuffar, yang tidak akan diingkari kecuali oleh orang-orang yang menzhalimi dirinya sendiri…
Sekalipun dihujani berbagai kritik & bahkan juga tuduhan, baik secara langsung maupun melalui media massa, tetapi mereka yang berada di dalam sistem dapat melihat adanya perkembangan arus kebaikan & perbaikan yang signifikan dengan masuknya para da’i dalam sistem tersebut, lambat tapi pasti kebatilan mulai tergeser & al-haqq mulai menunjukkan pengaruhnya, waLLAAHu musta’an…
Ikhwah wa akhwat fiddin,
Beberapa hari yang lalu, ada beberapa ikhwah yang mengirim email maupun SMS ke ana, meminta menjelaskan tentang “Dzikir Al-Ma’tsurat” yang ditulis oleh Imam Al-Banna -rahimahuLLAAH- yang katanya banyak disebut sebagai kumpulan dzikir yang dha’if & maudhu’, oleh sebagian saudara kita fiddiin…
Ana teringat beberapa waktu yang lalu, saat berkesempatan mengunjungi Islamic Development Bank (IDB) Jeddah bersama beberapa asztidz, saat kami berada di Jeddah, kami bertemu dengan ikhwah disana, dan diminta memberikan taujih. Setelah selesai menyampaikan taujih, nampak ada seorang ulama Jeddah (yang menurut ikhwah disana tidak suka dengan harakah & hizb), ia bertanya demikian: Mengapa Al-Ikhwan mengamalkan doa Al-Ma’tsurat yang merupakan kumpulan hadits-hadits dha’if?
Saat itu saya tidak berkesempatan menjawabnya, karena telah dijawab oleh beberapa ikhwah yang lain, namun nampaknya beliau -hafizhahuLLAAH- merasa tidak puas. Maka saat ramah-tamah, saya mendekatinya & terjadi dialog sbb:
Saya: Apakah antum sudah membaca kitab-kitab kumpulan doa & dzikir yang ditulis oleh para ulama kita Salafus Shalih?
Beliau: Sudah, bini’matiLLAAH…
Saya: Apakah antum bisa menunjukkan kepada saya, satu saja dari kitab kumpulan doa mereka itu yang tidak berisi hadits-hadits dha’if?
Beliau: Maksud ustadz?
Saya: Saya memohon jika bisa ditunjukkan kepada saya, ada 1 saja kitab kumpulan doa/dzikir yang ditulis ulama salaf yang bersih dari hadits-hadits dha’if.
Beliau: Wah, ana belum pernah tuh mencek semuanya..
Demikianlah potongan diskusi kami dengan beliau -semoga ALLAH SWT mengampuni saya & beliau-, yang kesemuanya ini menunjukkan substansi masalah yang sebenarnya, yaitu telah beredarnya berbagai isu & fitnah seperti malam yang gelap gulita diantara para aktifis Islam, tanpa didasari sikap husnuzhan & rihabatus-shudur…
Seandainya kita semua berpijak pada prinsip husnuzhan & rihabatush-shudur kepada sesama aktifis & da’i Islam, maka kita bisa membagi pekerjaan dakwah ini untuk menggarap berbegai segmen berdasarkan karakteristik khusus (khashais) & spesialisasi (takhassusiyat) dari masing-masing gerakan Islam, dan tidak perlu disibukkan untuk membantah tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh sesama saudara sendiri, yang malah amat sangat membantu & menguntungkan para musuh-musuh Islam untuk memecah-belah ummat, wabiLLAAHi nasta’in..
Kembali ke permasalahan Al-Ma’tsurat, maka ketahuilah wahai ikhwah wa akhwat fiLLAAH a’anakumuLLAAH jami’an, bahwa kalau seorang yang alim, maka mereka akan tahu bahwa tidak ada satupun kitab yang ditulis ulama salafus-shalih yang khusus berisi kumpulan doa & dzikir yang tidak berisi hadits-hadits dha’if, sekedar untuk menyebutkan contoh, sampai kita Al-Adab Al-Mufrad karangan Kibarul Muhaddits (Tokoh Terbesar para Ahli Hadits) yaitu Imam Abi AbdLLAAH Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Bardizbah Al-Bukhari (Imam Bukhari) juga banyak mengandung hadits-hadits dha’if…
Demikian pula kitab Al-Amalul Yaumi wa Laylah (baik yang ditulis oleh Imam An-Nasa’i, maupun oleh Imam Ibnu Sunni), kitab Al-Adzkar karangan Imam An-Nawawi, dan bahkan kitab Al-Kalimut Thayyib yang dikarang oleh salah seorang pelopor mujaddid pembersihan bid’ah & khurafat, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahuLLAAH- (yang telah di-syarah/diberi penjelasan oleh muridnya Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Wabilus Shayyib) juga bertaburan hadits-hadits dha’if…
Lalu mengapa dengan banyaknya hadits-hadits dha’if dalam tulisan para ulama tersebut lisan mereka diam & tidak menyebarkan fitnah, sementara terhadap Al-Ma’tsurat (yang kalaupun ada hadits dha’ifnya, maka tidaklah sebanyak dalam kitab Al-Kalimut Thayyib-nya Syaikhul Islam) lisan mereka mencaci-maki kepada penulisnya, yang telah mempersembahkan hidupnya untuk Islam & disaksikan oleh banyak orang, kemudian lisan mereka sibuk menyebarkan aib & menggunjingkannya?!
Hanya salah satu dari 2 alasan, apakah karena mereka tidak berilmu, ataukah karena ghill (kedengkian) yang telah bersarang di dalam hati mereka, dan apapun dari kedua sebab itu adalah sangat menyedihkan dan merupakan sebuah kerugian besar..
Ikhwah wa akhwat fiddiin rahimakumuLLAAH,
Jika kita benar-benar berusaha memahami ilmu hadits, maka akan kita ketahui pendapat para muhaddits tidaklah sama, tash-hih maupun tadh’if juga dapat saja berbeda antara seorang muhaddits dengan muhaddits yang lain, maka berpegang kepada pendapat seseorang seperti Syaikh Al-Albani -rahimahuLLAAH- misalnya dalam perbedaan pendapatnya dengan Syaikh Syakir dalam men-shahih-kan & men-dha’if-kan adalah dibolehkan, namun jika menyatakan pasti Syaikh Albani-lah yang benar, maka hal tersebut perlu ditinjau dalam beberapa sisi.
Pertama, apakah yang berkata adalah seorang ahli hadits, sehingga pendapatnya bisa diterima atau yang bicara hanya seorang thalabul-ilmi? Kedua, kalaupun dia seorang ahli hadits maka apakah penelitiannya diterima semua peneliti hadits atau berbeda dengan penelitian orang lainnya? Ketiga, kalaupun ada beberapa peneliti menyatakan hal yang sama, maka apakah orang-orang menerima keadilan mereka itu atau merasa tidak ithmi’nan karena dianggap mewakili & memiliki “sikap keberagamaan yang tertentu”, dst.
Saya pribadi pernah menemui hal seperti di atas, saat di sebuah web milik saudara kita dikatakan bahwa hadits Piagam Madinah tidak shahih, mu’dhal, dst. Sebagai orang yang ber-husnuzhan pada saudaranya maka saya ber-istighfar karena saya telah berpegang kepada hadits-hadits tersebut (lih. Tulisan saya di millist & Web ini tentang: Koalisi Politik dalam Islam), sayapun ingin merujuknya, namun iseng saya membuka beberapa tulisan di web berkenaan tentang hadits Piagam Madinah tersebut, lalu kemudian saya menemukan bantahan terhadap hal tsb dari sebuah tulisan Syaikh Akram Dhiyauddin Al-Umary yang meneliti masalah tersebut & menemukan bahwa hadits-hadits tersebut walaupun secara tekstual dha’if namun sebenarnya ada di-isyaratkan dalam shahih Al-Bukhari.
Demikianlah ikhwah wa akhwat fiLLAAH rahimakumuLLAAH, maka terus-terang masalahnya tidak sesederhana yang dikira oleh sebagian orang, dan tentang Al-Ma’tsurat maka sudah banyak orang yang berusaha men-tahqiq hadits-hadits-nya, seperti Syaikh Ridhwan Muhammad Ridhwan, Syaikh DR AbduLLAAH Azzam, Syaikh Prof DR Abdul Halim Abu Syuqqah, dll. Maka kalaupun ingin dilakukan diskusi dalam masalah ini, maka tidak boleh dengan hujatan, tuduhan, dsb; karena para peneliti tersebut adalah orang yang berkafa’ah di bidangnya sebagai muhaddits. Karena itu, tidaklah semua itu tuduhan, cercaan & fitnah itu disebarkan, kecuali makin menunjukkan sedikitnya ilmu & rendahnya akhlaq seseorang.
Maka di akhir tulisan ini ana ingin menyampaikan kepada antum semua bahwa kita (AL-IKHWAN) tidak menyukai mengamalkan hadits-hadits yang dha’if apalagi maudhu’, kita selalu berusaha berpegang kepada yang shahih semampu kita, hal ini bisa dilihat oleh orang-orang yang inshaf (adil) pada buku-buku tulisan para ulama kita, jikapun ditemui adanya hadits dha’if maka itu bukanlah karena disengaja, melainkan kekhilafan belaka, bedakan dengan saudara kita dari sebagian kaum Sufi atau lainnya, yang memang secara sengaja mengumpulkan kitab dari hadits-hadits dha’if, seperti dalam kitab Durratun Nashihin, Fadha’ilul A’mal, dsb…
Rabbanaghfirlanaa wa li ikhwaninalladzina sabaquna bil iman, wala taj’al fi qulubina ghillan lilladzina amanu…
Lebih Lanjut..Jumat, 01 Juni 2007
Bekal Utama Aktivis Dakwah
Oleh: DR. Amir Faishol Fath
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata:Sesungguhny a aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat: 33-35).
Ayat di atas merupakan bekal utama bagi para aktivis dakwah di jalan Allah (dai), agar selalu semangat dan istiqamah, tidak pernah gentar dan getir, senantiasa menjalankan tugasnya dengan tenang, tidak emosional dan seterusnya. Ayat tersebut diletakkan setelah sebelumnya di awal surat Fushshilat Allah menggambarkan sikap orang-orang yang tidak mau menerima ajaran Allah. Mereka mengatakan: hati kami tertutup, (maka kami tidak bisa menerima) apa yang kamu serukan kepadanya, pun telinga kami tersumbat, lebih dari itu di antara kami dan kamu ada dinding pemisah. (Fushshilat: 5). Bisa dibayangkan bagaimana beratnya tugas dakwah jika yang dihadapi adalah orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran, tidak mau diajak kepada kebaikan, lebih dari itu ia menyerang, memusuhi dan melemparkan ancaman. Setiap disampaikan kepada mereka ajaran Allah, mereka menolaknya dengan segala cara, entah dengan menutup telinga, menutup mata, atau dengan mencari-cari alasan dan lain sebagainya.
Dakwah di jalan Allah adalah kebutuhan pokok manusia. Tanpa dakwah manusia akan tersesat jalan, jauh dari tujuan yang diinginkan Allah swt. Para rasul dan nabi yang Allah pilih dalam setiap fase adalah dalam rangka menegakkan risalah dakwah ini. Di dalam Al-Quran, Allah swt tidak pernah bosan mengulang-ulang seruan untuk bertakwa dan menjauhi jalan-jalan setan. Tetapi manusia tetap saja terlena dengan panggilan hawa nafsu. Terpedaya dengan indahnya dunia sehingga lupa kepada akhirat. Dalam surat Al-Infithaar ayat 6 Allah berfirman: yaa ayyuhal insaan maa gharraka birabbikal kariim? (wahai manusia apa yang membuat kamu terpedaya, sehingga kamu lupa terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?)
Dalam ayat lain: kallaa bal tuhibbuunal aajilah watadzaruunal aakhirah (sekali-kali tidak, sungguh kamu masih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat) (Al-Qiyaamah: 20-21). Perhatikan bagaimana pahit getir yang harus ditempuh para pejalan dakwah. Sampai kapan manusia harus terus terombang-ambing dalam gemerlap dunia yang menipu kalau tidak ada seorang pun yang bergerak untuk melakukan dakwah? Di sini tampak bahwa tugas dakwah pada hakikatnya bukan hanya tugas para dai, melainkan tugas semua manusia yang mengaku dirinya sebagai hamba Allah tak perduli apa profesinya lebih-lebih mereka yang telah meletakkan dirinya sebagai aktivis dakwah.
Karenanya, persoalan dakwah bukan persoalan nomor dua, melainkan persoalan pertama dan harus diutamakan di atas segala kepentingan. Bila kita mengaku mencintai Rasulullah saw., maka juga harus mengaku bahwa berjuang di jalan dakwah adalah segala-galanya. Karena Rasulullah dan sahabat-sahabatnya tidak saja mengorbankan segala waktu dan hartanya bahkan jiwa raganya untuk dakwah kepada Allah. Bagi mereka rumah dan harta yang telah mereka bangun sekian lama di kota Makkah memang merupakan bagian dari kehidupan yang sangat mahal dan berharga. Tetapi mempertahankan iman dan menegakkan ajaran Allah di bumi adalah di atas semua itu. Karenanya mereka tidak pikir-pikir lagi untuk berhijrah dengan meninggalkan segala apa yang mereka miliki. Mereka benar-benar paham bahwa iman dan dakwah pasti menuntut pengorbanan. Karenanya dalam berbagai pertempuran para sahabat berlomba untuk melibatkan dirinya. Mereka merasa berdosa jika tidak ikut terlibat aktif. Tidak sedikit dari mereka yang
telah gugur di medan tempur. Semua ini menggambarkan kesungguhan dan kejujuran mereka dalam menegakkan risalah dakwah yang taruhannya bukan hanya harta benda melainkan juga nyawa.
Dakwah Adalah Tugas Yang Sangat Mulia
Ayat di atas dibuka dengan pernyataan: waman ahsanu qawlan. Ustadz Sayyid Quthub ketika menfasirkan ayat ini berkata: Kalimat-kalimat dakwah yang diucapkan sang dai adalah paling baiknya kalimat, ia berada pada barisan pertama di antara kalimat-kalimat yang baik yang mendaki ke langit. (lihat fii dzilaalil quran, oleh Sayyid Quthub, vol.5, h. 3121). Kata waman ahsanu Allah ulang di beberapa tempat dalam Al-Quran untuk menegaskan tingginya kualitas beberapa hal: Pada surat An-Nisa ayat 125 Allah berfirman: waman ahsanu diinan mim man aslama wajhahahuu lillaah (siapakah yang lebih bagus agamanya dari pada orang yang menyerahkan diri kepada Allah). Dalam Al Maidah ayat 50: waman ahsanu minallahi hukman (siapa yang lebih bagus ajarannya dari pada ajaran Allah). Dan pada ayat di atas: Siapakah yang lebih bagus perkataannya dari pada perkataan para dai di jalan Allah? Perhatikan semua ayat-ayat tersebut secara seksama, betapa tugas dakwah sangat Allah muliakan. Peringkatnya
sangat tinggi, setara dengan kualitas hukum Allah dan penyerahan diri kepadaNya secara total.
Adalah suatu keharusan seorang dai, menyerahkan hidupnya kepada Allah swt. Ia tidak kenal lelah menjalani tugas-tugas dakwah. Pun ia tidak mengharapkan keuntungan duniawi di baliknya, kecuali hanyalah ridhaNya. Dalam Surat Yasiin ayat 21 Allah berfirman: Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Toh kalaupun Allah membuka jalan rezeki baginya melalui jalan-jalan tak terduga fadzaalika khairun alaa khair. Yang penting jangan sampai seorang dai orientasinya dunia. Sebab, bila seorang dai juga berorientasi dunia, kepada apa dia mau berdakwah, bukankah tema utama dakwah adalah ajakan untuk mempersiapkan diri menuju akhirat?
Berdakwah Dengan Amal
Ayat selanjutnya menegaskan pentingnya amal shalih: wa amila shaalihaa. Mengapa? Apa hubungannya dengan dakwah? Bahwa seorang dai jangan hanya ngomong saja, sementara perbuatannya jauh atau bahkan bertentangan dengan apa yang disampaikannya. Benar, bahwa perkataan dakwah adalah paling baiknya perkataan, tetapi itu kalau diikuti dengan amal shalih. Jika tidak, maka perkataan itu akan menjadi bumerang yang akan menyerang sang dai itu sendiri. Dalam Ash Shaf ayat 3 Allah berfirman: Amat besar kebencian Allah, bila kamu hanya mengatakan tanpa mengerjakannya.
Karenanya Rasulullah saw. tidak hanya berbicara, melainkan lebih dari itu seluruh perbuatannya merupakan contoh amal shalih. Allah swt. memberikan rekomendasi yang luar biasa dalam surat Al-Qalam ayat 4: Dan sesungguhnya kamu (Mumhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. Imam Ibn Katsir ketika menafsirkan ayat ini menyebutkan riwayat dari Aisyah ra.: bahwa akhlak Rasulullah saw. adalah Al-Quran (lihat Tafsir Ibn Katsir, vol.4, h.629). Dalam hadits-hadits yang diriwayatkan para ulama tidak semua berupa ucapan Rasulullah saw., melainkan banyak sekali yang berupa cerita para sahabat mengenai perilaku dan sikap Rasulullah saw. Banyak sekali hadits-hadits yang berupa ucapan pendek, to the point, tidak bertele-tele, mudah dihafalkan. Suatu gambaran betapa keberhasilan dakwah Rasulullah saw. adalah karena setiap yang diucapkannya langsung ada contohnya dalam bentuk amal nyata dari sikap dan akhlaknya yang sangat mulia.
Menampilkan Diri Sebagai Seorang Muslim Adalah Dakwah
Di antara ciri utama berdakwah kepada Allah, tidak saja mengamalkan ajaranNya dan menjauhi segala yang dilarang melainkan lebih dari itu menampilkan diri sebagai seorang Muslim di manapun ia berada, Allah berfirman pada ayat berikutnya: wa qaala innanii minal muslimiin. Dengan kata lain tidak cukup seorang mengamalkan Islam hanya dengan shalat, membayar zakat dan menjalankan haji, sementara dalam hidup sehari-harinya tidak mencerminkan Islam, misalnya ia tidak merasa berdosa dengan mempertontonkan auratnya di mana-mana, bergandengan tangan dengan wanita bukan istrinya di depan banyak orang, melakukan kemaksiatan, kezhaliman, korupsi, judi, perzinaan dengan terang-terangan. Anehnya, dia merasa malu untuk menampilkan Islam dengan sebenar-benarnya. Ia tidak merasa bangga sebagai seorang muslim. Bahkan Islam yang dipeluk digerogoti ajarannya sedikit demi sedikit, dengan sikap memperdebatkan prinsip-prinsipnya yang sudah baku, mencari-cari dalil untuk membangun keraguan
terhadap kebenaran Islam.
Seorang aktivis dakwah sejati selalu bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Ia tidak takut menampilkan Islam sebagai pribadinya. Sungguh krisis umat Islam di mana-mana kini adalah krisis keberanian untuk menampilkan wajah Islam yang sebenarnya. Islam mengajarkan kedisiplinan, kebersihan, dan akhlak mulia, tetapi umat Islam di mana-mana selalu terkesan jorok, kotor dan beringas. Islam mengajarkan kejujuran, dan ketegasan dalam menegakkan hukum, tetapi penipuan dan korupsi justru merebak di tengah masyarakat yang mayoritasnya umat Islam. Mengapa ini semua terjadi? Bukankah orang-orang non-muslim sudah sedemikian jauh menampilkan dirinya sebagai bangsa yang bersih, disiplin dan lain sebagainya?
Benar, jika kemudian saya mendengar penyataan salah seorang muallaf : Saya masuk Islam bukan karena umat Islam, melainkan karena kebenaran Islam. Seandainya umat Islam mampu menampilkan Islam dengan sebenar-benarnya, niscaya mereka akan berbondong-bondong masuk Islam. Bahkan ada ungkapan yang sangat terkenal dan diulang-ulang hampir dalam setiap seminar di dalam di luar negeri: al-Islam mahjuubun bil muslimiin (kebenaran Islam terhalang oleh orang-orang- orang Islam sendiri). Perhatikan realitasnya, apa yang sedang berlangsung dalam diri umat Islam di mana-mana. Ya, kalau tidak berperang di antara mereka sendiri, mereka dizhalimi oleh pemimpinnya sendiri yang mengaku muslim.
Karenanya menampilkan Islam secara jujur dalam diri sebagai pribadi, dalam rumah tangga, dalam bermasyarakat dan dalam berbangsa dan bernegara adalah sebuah keniscayaan, dan menurut ayat di atas termasuk perbuatan yang sangat baik dan mulia. Oleh sebab itu pada ayat berikutnya Allah mengajarkan agar seorang dai selalu menyadari posisinya yang sangat mulia. Jangan sampai karena suatu saat kelak menghadapi cobaan berupa munculnya orang-orang yang menolak dakwahnya dan lain sebagainya ia kemudian emosional. Sehingga perkataannya lepas kontrol, lalu membalas cercaan mereka dengan cercaan. Atau lebih dari itu ia kemudian putus asa, lalu menjadi lesu dan patah arang. Akibatnya dakwah yang sangat Allah muliakan, ia lalaikan begitu saja.
Tidak, tidak demikian pribadi seorang aktivis dakwah. Seorang aktivis dakwah selalu menjiwai ayat ini: walaa tastawil hasanatu walas sayyiah. Benar, tidak akan pernah sama antara kebaikan dan keburukan. Kata-kata dakwah tetap lebih mulia dari kata-kata pencerca. Pertahankan kata-kata yang baik itu untuk terus menghiasi lidah sang dai. Jangan sampai terpengaruh emosi para pencerca lalu ditukar menjadi cercaan pula. Karenanya Allah ajarkan konsep: idfa billatii hiya ahsan, balaslah dengan ucapan yang lebih baik dan dengan cara yang lebih baik. Kata ahsan juga diulang pada ayat lain: wajadilhum billatii hiya ahsan, suatu sikap yang harus selalu menghiasi pribadi seorang dai setiap saat dan di manapun ia berada, lebih-lebih saat menghadapi penolakan, cercaan dan makian. Di saat seperti itu seorang dai, harus benar-benar tampil sempurna, bijak dan tenang. Mengapa? Sebab ia membawa misi Allah Yang Maha Perkasa. Maka ia harus selalu yakin dan percaya diri dengan posisinya.
Tidak usah minder apalagi rendah diri.
Bahkan pada ayat selanjutnya Allah mengajarkan agar ia selalu tampil dengan penuh persahabatan, sekalipun mereka mencerca dengan penuh permusuhan. Perhatikan bagaimana Allah mengajarkan cara berdakwah yang efektif, di mana kemudian cara ini menjadi salah satu pilar utama dalam ilmu komunikasi modern. Setelah itu Allah menegaskan bahwa untuk itu semua seorang dai tidak cukup hanya dengan bermodal semangat, melainkan lebih dari itu harus mempunyai sifat sabar dan selalu memohon kepada Allah agar mendapatkan nasib yang baik, di dunia dan di akhirat. Tanpa sifat sabar dan doa untuk memperoleh nasib yang baik, segala proses akan menjadi sia-sia. Sebab segala kemenangan tidak akan pernah dicapai tanpa pertolonganNya.
Dakwatuna.com
Minggu, 27 Mei 2007
Pembantaian Baru Israel dan Hilangnya Nurani Dunia
Jelas bahwa nurani dunia sedang libur panjang. Atau bahkan mungkin sedang di terpenjara di tahanan Guantanamo Amerika bersama mereka yang ditahan sejak beberapa tahun lalu tanpa proses hukum. Tidak adanya pencegahan (upaya preventif), penegakan hukum, pemerkaraan dan penerapan sanksi semakin memperbanyak kesempatan terjadinya tidak kejahatan dan kriminal, juga memperluas area bagi para penjahat untuk melakukan kejahatannya dan berdalil atas tindakannya yang anti kemanusiaan dan nilai-nilai kehidupan.
Kelambatan “penegak hukum dan legalitas internasional” melakukan aktifasi dan pelaksanaan undang-undang menjadi semacam dukungan dan support untuk membuka kesenangan para penjahat, sekaligus menjadi dukungan dan support untuk menyebarkan budaya darah, pembunuhan dan pelecehan terhadap semua perangkat perdamaian dan keamanan bagi semua pihak. Kelambatan ini tidak muncul kecuali pada saat negara penjajah
Dalam kaitan ini, mungkin bisa disebutkan model pembantaian oleh
Dikarekan Israel berada di atas hukum dan kesepakatan-kesepakatan yang ada, karena mendapatkan perlindungan Amerika atas semua kejahatan yang dilakukan hingga sampai menggunakan hak veto untuk menggagalkan sekadar kecaman terhadap Israel, negara yang tidak mahir kecuali dengan bahasa darah dan pembunuhan, maka bagaimana mungkin dengan penerapan sanksi? Pembunuh anak-anak Palestina ini menambah daftar panjang kejahatannya dengan pembantaian baru (20/05, red.) dalam serangan pesawat-pesawat tempur buatan Amerika ke rumah tokoh politik gerakan Hamas dalam sebuah aksi kejahatan yang melanggar semua bentuk larangan dan melanggar segala aturan (hukum). Ini jelas kejahatan perang yang sudah seharusnya mendapatkan sanksi internasional, terlebih pesawat-pesawat ini menyerang keluarga yang dilindungi oleh hukum internasional. Atau memang karena sudah seharusnya, bahwa ketika tidak ada kekuatan apapun maka hukum hanya berlaku bagi kepentingan orang-orang yang melampaui batas dan pembunuh, serta pelanggar setiap nilai, konvensi dan legalitas PBB. Pembantaian baru ini mengungkapkan bahwa orang-orang
*) Harian Qatar al Wathan (
Rabu, 23 Mei 2007
Biarlah Semua Berjalan Apa Adanya......
Entah perasaan apa yang ada dalam hatiku akhir-akhir ini...
Amanahku telah selesai di satu sisi..
Namun ada banyak hal yang harus kuhadapi.. TA ku yang tertunda, rencana mendatang, adik-adik yang kutinggalkan...apakah mereka siap menerima semua ini ??
Semoga ini adalah jalan menuju keikhlasan..
Berakhirnya amanah...
Ada kegembiraan di satu sisi, karena aku bisa menyentuh hal-hal 'baru' yang beda dari sebelumnya. Namun ternyata banyak kesedihan yang aku rasakan. Perpisahan aku dengan salah seorang kawan perjuanganku (u' marta-semoga kita bisa bertemu lagi), manisnya ukhuwah yang baru kurasakan akhir-akhir ini ternyata tak mampu lagi bertahan lama. Karena kami akan disibukkan dengan rencana kehidupan masing-masing. Ketidak tegaan hati ini meninggalkan adik-adik penerus perjuangan, karena kondisi mereka yang memang belum bisa membuat hati ini tenang. Ada rasa tanggung jawab akan kondisi mereka.. Mereka seperti ini pun karena kami..didikan kami, belajar dari kami, binaan kami..
Ya Allah..beratnya menjadikan manusia seutuhnya..
Kuingin benar-benar lepas dari amanah ini..
Tapi aku tak bisa..aku dihadapkan pada sebuah tanggung jawab
Ku tak ingin kemajuan yang kami rintis..hilang begitu saja tak mampu mereka abadikan.
Adik..
Bangunlah dari tidur panjangmu..
Jumat, 04 Mei 2007
KESERAKAHAN PRIA & WANITA
[daarut-tauhid]
Keserakahan menjadi sejarah tertua umat manusia. Sejak zaman nabi Adam sampai nanti hari kiamat. Keserakahan adalah menifestasi dari ego yang terlalu besar, sehingga tidak mempedulikan orang lain. Hasilnya, adalah masalah.
Ketika nabi Adam dan ibu Hawa masih digambarkan berada di surga, mereka digelincirkan oleh setan dengan senjata keserakahan. Rayuan setan baru membuahkan hasil ketika setan mengiming-imingi Adam dan Hawa dengan kehidupan kekal abadi. Ya, mereka bakal bisa hidup kekal kalau memakan buah Khuldi...
Padahal itu adalah 'buah larangan'. Dilarang oleh Allah. Akan tetapi karena iming-iming memperoleh kehidupan kekal abadi, Adam dan Hawa pun nekat melanggar perintah itu. Maka terbukalah aurat mereka berdua. Mereka, kemudian menutupinya dengan daun-daun surga. Allah menggolongkan mereka sebagai orang-orang yang mendurhakai perintah Allah. Dan tersesatlah mereka karenanya. Menuai masalah.
QS. Al Baqarah (2): 35
Dan Kami berfirman: "Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.
QS. Thaahaa (20): 115
Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.
QS. Thaahaa (20): 120-121
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?"
Maka keduanya memakan buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.
Untungnya, Allah adalah Dzat Yang Maha Mengampuni dan Maha Menyayangi. Allah mengampuni kesalahan itu. Dan kemudian memasukkan mereka ke dalam golongan hamba-hambaNya yang bertaubat dan golongan hamba-hamba yang saleh.
QS. Al A'raaf (7): 23
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".
Coba cermati, betapa dahsyatnya kekuatan keserakahan yang ada di dalam diri manusia. Dan ini telah bersemayam di dalam jiwa kita sejak awal. Maka, kalau kita tidak waspada, setan akan dengan mudah menggelincirkan kita sebagaimana telah menggelincirkan Adam dan Hawa.
Kisah keserakahan ini terulang kembali pada anak keturunan Adam. Pada generasi kedua manusia, yaitu antara Qabil dan Habil. Keduanya adalah anak-anak Adam & Hawa. Qabil membunuh saudaranya, Habil, karena iri dan serakah terhadap apa yang dianugerahkan Allah kepada Habil. Ia tak bisa melawan nafsu serakahnya, maka ia pun tergelincir oleh tipu daya setan.
Cerita ini diabadikan oleh Allah di dalam Al-Quran, agar kita bisa mengambil pelajaran darinya. Bahwa keserakahan selalu menghasilkan masalah, penyesalan dan penderitaan.
QS. Al Maaidah (5): 27
Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembah- kan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa".
QS. Al Maaidah (5): 30
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.
Cerita keserakahan yang lain terjadi pada jaman nabi Musa, yaitu Qarun. Ia adalah tokoh legendaris yang sangat kaya raya, sekaligus mewakili watak keserakahan dan kesombongan. Maka Allah membenamkan Qarun beserta harta bendanya ke dalam bumi lewat kejadian gempa.
Permukaan Bumi retak-retak dan merekah, menelan seluruh harta bendanya. Sekaligus dirinya. Sehingga, kini, kalau ada orang menemukan harta benda yang terpendam di dalam tanah, mereka menyebutnya sebagai harta Karun.
QS. Qashash (28): 76
Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri".
QS. Qashash (28): 81
Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Ddan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).
Dalam sejarah modern, bukan hanya lelaki yang menunjukkan keserakahan, melainkan juga para wanita. Barangkali ini terkait dengan gerakan emansipasi yang semakin menguat di jaman modern.
Meskipun, sejarah keserakahan itu telah terjadi di abad-abad terdahulu di negara-negara tua seperti Mesir, Romawi, India, China dan Eropa dalam bentuk yang berbeda. Mereka biasanya muncul di belakang layar. Di balik kekuasaan raja atau penguasa tertentu yang telah bertekuk lutut kepadanya...


